Tradisi Seni Wayang Topeng Gubugklakah: Warisan Sastra Panji Majapahit yang Terus Hidup

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

Gambar 2. Rest Area Gubugklakah, Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Sumber: Foto KKN UGM Bromo Bestari

TRADISI SENI WAYANG TOPENG YANG TERUS HIDUP

Gubugklakah — Ketika suara gamelan mengalun dan ukiran kayu bertopeng mulai menggerakkan langkah-langkah para penari, waktu seolah berputar kembali ke masa klasik Jawa. Di Desa Wisata Gubugklakah, Wayang Topeng bukan sekadar seni pertunjukan hiburan saja, melainkan jembatan waktu yang menghubungkan masyarakat modern dengan warisan sastra, estetika, dan spiritual era Majapahit.

Pertunjukan Wayang Topeng di Gubugklakah memiliki akar sejarah yang sangat kuat. Penemuan Prasasti Pabañolan (berangka tahun 1381 M/1541 M) menjadi bukti otentik bahwa tradisi pertunjukan seni peran, tarian bertopeng (patapělan), dan cerita Sastra Panji telah hidup dan dilestarikan oleh para pujangga (rakawi) di lereng Gunung Tengger sejak abad pertengahan.

Seni ini sempat meredup seiring kuatnya arus modernisasi. Namun, melalui semangat juang generasi muda dan dorongan Lembaga Desa Wisata (Ladesta), kesenian ini bangkit kembali. Puncaknya pada 3 Mei 2023, dibentuklah sanggar tari Wahyu Lestarining Budoyo di Balai Desa Gubugklakah sebagai wadah edukasi dan pelestarian seni tari tradisional bagi anak-anak desa.

Cerita yang dibawakan dalam Wayang Topeng Malangan berakar dari Sastra Panji, sebuah epik romansa asli Nusantara yang mengisahkan pengembaraan, perjuangan, dan cinta sejati antara Raden Panji Asmarabangun (Inu Kertapati) dari Kerajaan Jenggala dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana) dari Kerajaan Kediri.

Karakter-karakter ikonik yang dihidupkan dalam tarian ini antara lain:

  • Panji Asmarabangun: Pangeran berparas halus dan bijaksana, simbol kebaikan dan ketenangan jiwa.
  • Dewi Sekartaji: Putri berwajah suci dan anggun, simbol keutamaan watak wanita.
  • Raden Gunungsari & Dewi Ragilkuning: Kesatria dan putri peneduh yang mendampingi perjuangan Panji.
  • Prabu Klana Sewandana: Raja antagonis berwajah merah berani dari Bantarangin, simbol hawa nafsu dan ambisi.
  • Patrajaya: Tokoh punakawan yang jenaka namun sarat akan nasihat bijak.

Setiap warna dan ukiran topeng kayu mengekspresikan karakter dasar manusia—mulai dari kesucian (putih), keberanian/nafsu (merah), hingga kearifan (hijau/hitam).

Sebelum pementasan dimulai, keheningan terasa menyelimuti panggung. Para sesepuh adat melakukan ritual pembakaran dupa serta merapalkan mantram prapementasan untuk memohon keselamatan dan restu leluhur agar pertunjukan berjalan lancar.

Kini, Sanggar Wahyu Lestarining Budoyo tidak hanya menyajikan lakon Wayang Topeng Panji, tetapi juga memperkaya khazanah pertunjukan dengan berbagai tarian tradisional khas Malangan, seperti ​Tari Beskalan Putri & Tari Remo, ​Tari Golek Malangan, ​Tari Sekarsari, dan ​Tari Sradan Suci

Wayang Topeng Gubugklakah menawarkan perpaduan sempurna antara gerak tari yang gagah dan sigrak, lantunan nada gamelan Malangan, serta nilai-nilai filosofi kehidupan yang adiluhung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *