Slametan Karo Desa Gubugklakah: Upacara Adat Penghormatan Leluhur dan Orang Tua
Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

Gambar 1. Pelaksanaan Ritual Adat Slametan Karo di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Sumber: Dokumentasi Kegiatan Desa Gubugklakah
SLAMETAN KARO: PENGHORMATAN KEPADA LELUHUR YANG PENUH MAKNA
Gubugklakah — Di antara dinginnya hawa pegunungan dan tenangnya suasana lereng Tengger, Desa Gubugklakah menyimpan sebuah pesta tradisi tahunan yang tak hanya meriah, tetapi juga menyentuh kedalaman jiwa. Tradisi itu adalah Slametan Karo atau Upacara Adat Karo, sebuah ritual adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Gubugklakah untuk mengenang asal-usul kehidupan, menghormati para pembuka desa (bedhah krawang), serta memanjatkan doa keselamatan.
Bagi Anda pencinta wisata budaya dan etnografi, menyaksikan Slametan Karo di Desa Wisata Gubugklakah adalah kesempatan langka untuk melihat dari dekat bagaimana kearifan lokal Tengger dijaga secara turun-temurun dengan penuh khidmat.
Dalam pandangan masyarakat Tengger di Gubugklakah, kata Karo, yang berarti ‘dengan’, merujuk ke dua hal yang berpasangan mengandung makna filosofis yang sangat dalam:
- Penciptaan Manusia: Karo merujuk pada dua hal asal muasal pembentuk manusia, yaitu tes abang (simbol unsur ibu) dan tes putih (simbol unsur bapak). Penamaan ini menjadi pengingat filosofis bahwa setiap manusia ada karena pengorbanan kedua orang tuanya.
- Ajaran Restu Orang Tua: Dari pemaknaan ini, lahir ajaran luhur Tengger “Tetes iluh donga pangestu bapa lan biyung“, bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini yang sanggup menandingi tetesan air mata dan doa restu dari ibu dan bapak.
- Keseimbangan Alam: Karo juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia selalu diciptakan berpasangan, ada siang dan malam, suka dan duka, hidup dan mati, dll. Manusia diajak untuk menyikapi setiap perjalanan hidup dengan tenang dan seimbang.
Tradisi Karo juga berakar dari legenda kesetiaan sosok Seca Setuhu yang terekam dalam naskah kuno Aji Saka, menjadikannya simbol pengorbanan dan ketulusan hati.
Pelaksanaan Slametan Karo yang kini juga dikenal sebagai Selamatan Desa Gubugklakah berlangsung khidmat sekaligus semarak selama rangkaian tiga hari yang berbeda:
Di hari pertama malam hari, warga berkumpul di Balai Desa Gubugklakah untuk melaksanakan wilujengan. Acara dipimpin oleh Rama Dhukun sebagai pemangku adat Tengger. Di hadapan ubarampe yang melimpah seperti tumpeng, pisang ayu, suruh ayu, jajan pasar, hasil bumi, serta harum asap kemenyan dan dupa, Rama Dhukun membacakan mantram-mantram keselamatan bagi seluruh warga desa.
Keesokan harinya, suasana desa berubah penuh warna. Warga menggelar arak-arakan meriah membawa tumpeng dan hasil bumi dari Rest Area Gubugklakah menuju Pundhen Mbah Mail di kawasan bawah. Di Pundhen Gunungsari, tradisi Tayuban dipentaskan sebagai simbol kebersamaan, keceriaan, dan wujud rasa syukur bersama.
Sebagai penutup rangkaian adat, warga berbondong-bondong membawa makanan menuju Pundhen Gunungsari untuk menggelar sadranan. Di tempat sakral pembuka desa ini, warga memanjatkan doa bersama untuk para leluhur yang telah mendahului.
Slametan Karo bukan sekadar perayaan warga, melainkan sebuah ziarah luhur. Di sini, wisatawan tidak hanya disuguhkan parade warna-warni baju adat dan tumpeng hasil bumi, tetapi juga diajak meresapi kehangatan gotong royong warga pegunungan.