Tradisi Unan-Unan Desa Gubugklakah: Ritual Sakral 8 Tahun Sekali Penyelaras Alam

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

UNAN UNAN: TRADISI LUHUR YANG MENGAJARKAN KESELARASAN ALAM

Gubugklakah — Pernahkah Anda mendengar sebuah tradisi adat yang hanya digelar sekali dalam rentang waktu delapan tahun? Di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, terdapat sebuah perayaan sakral yang sangat dinantikan bernama Tradisi Unan-Unan.

Bukan sekadar perayaan biasa, Unan-Unan adalah bukti kecerdasan masyarakat Tengger zaman kuno dalam menyelaraskan penanggalan, menjaga ketepatan waktu tanam pertanian, serta merawat keharmonisan antara manusia dan alam.

Bagi suku Tengger di Gubugklakah, Unan-Unan memiliki pakem ungkapan yang sangat terkenal, yakni “Ngunan wulan nglungguhne taun“, yang bermakna “menetapkan bulan dan mendudukkan tahun”.

Bagaimana sejarahnya? Kalender tradisional Tengger dihitung berdasarkan peredaran bulan, sehingga memiliki selisih hari dengan peredaran matahari. Jika dibiarkan, penanggalan ini akan menggeser hitungan musim secara bertahap.

Untuk menjaga presisi dan ketepatan waktu tanam di sektor pertanian, leluhur Tengger menciptakan mekanisme koreksi kalender setiap satu windu (siklus 8 tahunan). Penyesuaian astronomis inilah yang diwujudkan melalui perayaan adat Unan-Unan. Sebuah kearifan lokal yang membuktikan betapa majunya pengetahuan astronomi leluhur kita.

Masyarakat Gubugklakah juga mengenal Unan-Unan sebagai tradisi untuk sedekah. Ritual ini bertujuan memohon ampunan atas dosa-dosa leluhur sekaligus meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar desa terhindar dari marabahaya yang disimbolkan Batara Kala.

Inti dari prosesi Unan-Unan yang amat menyedot perhatian warga dan wisatawan adalah:

  • Penyembelihan Kerbau: Seekor kerbau disembelih secara khusus sebagai persembahan utama.
  • Kirab Kepala Kerbau: Kepala kerbau dibiarkan utuh, ditata anggun di atas wadah bambu (ancak), lalu diarak bersama-sama oleh warga menuju Pundhen Mbah Mail untuk ditanam.
  • Makna Filosofis: Dalam tradisi Jawa-Tengger, kepala kerbau adalah simbol dari kebodohan dan keangkuhan. Menanam kepala kerbau bermakna mengubur dalam-dalam sifat-sifat buruk manusia agar terhindar dari malapetaka.
  • Makan Bersama: Daging kerbau kemudian dimasak dan dinikmati bersama oleh seluruh warga desa sebagai wujud kebersamaan, kehangatan gotong royong, dan rasa syukur atas rezeki tanah pegunungan.

Dari sudut pandang modern, Unan-Unan di Desa Gubugklakah merupakan bentuk pengelolaan mitigasi bencana berbasis budaya. Penataan ulang kalender memastikan warga tidak salah membaca tanda-tanda alam dan iklim.

Kesalahan/kebodohan manusia yang disimbolkan dengan kepala kerbau dikubur dimaknai sebagai refleksi manusia terhadap alam yang telah memberikan sumber daya kehidupan bagi mata pencaharian masyarakat Gubugklakah yang agraris. Unan-Unan menegaskan bahwa keharmonisan antara manusia, pencipta, dan alam sekitar akan membawa berkah serta keselamatan bagi kehidupan desa.

Unan-Unan bukan sekadar daya tarik wisata visual, melainkan sebuah pengalaman budaya yang langka. Karena hanya berlangsung 8 tahun sekali (satu windu), kesempatan untuk menyaksikan kirab ancak kepala kerbau, lantunan doa adat, serta kehangatan warga Tengger Gubugklakah adalah momen yang sangat berharga bagi para penjelajah budaya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *