Tradisi Suroan Desa Gubugklakah: Harmoni Adat Tengger dan Islami Penolak Bala
Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026
TRADISI SUROAN
Gubugklakah — Ketika bulan Suro (awal tahun dalam penanggalan Jawa) tiba, suasana di Desa Gubugklakah terasa berbeda. Dinginnya udara pegunungan dibalut dengan kehangatan warga yang menggelar Tradisi Suroan, sebuah ritual penolak bala sekaligus momen perenungan batin yang mempertemukan nilai adat Tengger dan ajaran Islam dalam satu harmoni yang menyejukkan.
Secara historis, bulan Suro berakar dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram) pada tahun 1633 Masehi yang menyatukan kalender Saka berbasis matahari dengan kalender Hijriah berbasis bulan. Dalam tradisi Tengger, perayaan awal tahun ini juga selaras dengan tradisi Nyapu.
Di Desa Gubugklakah sendiri, Tradisi Suroan memiliki kisah tutur unik yang menyentuh hati. Pada akhir tahun 1960-an, desa ini sempat diserang oleh wabah penyakit (pageblug). Di tengah kepanikan warga, datanglah seorang ulama bernama Kyai Basori dari Jawa Barat yang sedang mencari kerabatnya, Kyai Mughdi.
Meski Kyai Basori salah alamat, warga Gubugklakah dengan tulus dan ramah membantu mempertemukan beliau dengan Kyai Mughdi di Klakah. Atas kebaikan dan keramahan warga desa, Kyai Mughdi kemudian memberi saran spiritual agar warga menyelenggarakan Slametan Suro untuk memohon keselamatan dari Sang Pencipta.
Sejak peristiwa itu, Tradisi Suroan rutin diselenggarakan warga setiap awal bulan Suro. Rangkaian ritualnya sarat akan simbolisme kehidupan.
- Penyembelihan kambing hitam sebagai sarana penolak bala atau penjaga keselamatan, warga menyembelih kambing hitam.
- Penanaman kepala dan kaki di gapura pintu masuk desa. Prosesi ini disimbolkan sebagai tumbal atau penguburan kesialan agar malapetaka tidak masuk melintasi batas desa.
- Makan bersama (kembul bujana) daging kambing yang diolah oleh warga menggambarkan bentuk rasa syukur atas nikmat kehidupan dan rezeki dari Tuhan.
- Setelah wilujengan tingkat desa selesai, perayaan Suroan akan dilanjutkan secara bergiliran di tingkat RW (Rukun Warga) di hari-hari berikutnya.
Salah satu pemandangan paling indah dalam Tradisi Suroan adalah tingginya rasa toleransi warga Gubugklakah. Dalam prosesi ritual, Rama Dhukun sebagai pemangku adat Tengger merapalkan mantram-mantram keselamatan bagi alam dan desa, bersanding erat dengan Kyai setempat yang memimpin pembacaan istighosah. Perpaduan antara doa adat Tengger dan tradisi Islam ini membuktikan betapa indahnya keberagaman yang dirawat dengan sikap saling menghormati.
Kata Suro berasal dari bahasa Arab ‘Asyura (hari kesepuluh bulan Muharram). Dan dalam kebudayaan Jawa-Tengger, Suroan diartikan sebagai momentum untuk menenangkan pikiran dari hiruk-pikuk keduniawian, menahan diri dari perbuatan buruk, dan melakukan introspeksi batin agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru.
Menyaksikan Tradisi Suroan di Desa Wisata Gubugklakah memberikan pelajaran berharga tentang cara manusia menghormati masa lalu, bersyukur atas masa kini, dan menyongsong masa depan dengan keheningan jiwa serta keharmonisan antar sesama.