Tradisi Barikan: Wujud Nilai Kekeluargaan dan Doa Keselamatan Warga Gubugklakah

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

TRADISI BARIKAN WUJUD NILAI KEKELUARGAAN WARGA GUBUGKLAKAH

Gubugklakah — Selain festival budaya tahunan dan perayaan delapan tahunan yang semarak, kebudayaan Desa Gubugklakah disatukan oleh sebuah ritme tradisi rutin yang digelar setiap tiga bulan sekali. Tradisi itu bernama Barikan, sebuah upacara adat tolak bala sekaligus ungkapan rasa syukur yang mempertemukan warga di bawah rindangnya pepohonan sakral pundhen desa.

Tradisi Barikan memiliki tujuan untuk melindungi warga dari malapetaka (pageblug), para sesepuh desa menginisiasi sebuah ritual wilujengan, yaitu syukuran dan doa keselamatan bersama. Dari peristiwa itulah, Barikan menjadi tradisi berkala setiap tiga bulan (triwulanan) sebagai tradisi adat, sekaligus pengingat keselamatan bagi seluruh warga desa.

Pusat dari pelaksanaan tradisi Barikan berada di Pedhanyangan, tepatnya di Pundhen Mbah Mail, sebuah tempat sakral yang terdapat pepohonan tua yang rindang dan menjadi simbol penghormatan kepada tokoh pembuka desa (bedhah krawang).

Prosesi ritual ini dipimpin langsung oleh Rama Dhukun sebagai pemangku adat Tengger. Jalannya acara berlangsung dengan khidmat. Warga berbondong-bondong datang dengan membawa tampah dan wadah berisi ubarampe atau sesaji berupa nasi, ayam panggang (ingkung), pisang, daun sirih (suruh), hingga hasil bumi. Selanjutnya, Rama Dhukun memimpin upacara dengan memohon perlindungan dari mara bahaya, wabah penyakit, serta keselamatan hidup. Setelah doa bersama, seluruh warga duduk bersila melingkar dan makan bersama-sama dari makanan yang telah didoakan.

Secara filosofis, tradisi Barikan di Desa Gubugklakah menyimpan tiga pesan moral yang sangat mendalam, berupa:

  • Rasa saling berbagi,karena makanan yang dibawa warga dinikmati secara merata tanpa membeda-bedakan status sosial. Yang berkecukupan dan yang membutuhkan duduk sejajar menikmati hidangan yang sama.
  • Harmoni terhadap alam, diselenggarakannya upacara di area pundhen menunjukkan betapa masyarakat desa sangat menjaga keharmonisan terhadap alam sekitar.
  • Barikan juga menjadi ruang spiritual rutin bagi warga untuk sejenak berhenti dari rutinitas bertani dan bersyukur kepada Sang Pencipta atas nikmat kesehatan serta rezeki yang berlimpah.

Menyaksikan kebersamaan warga dalam tradisi Barikan membuktikan bahwa keindahan Gubugklakah tidak hanya terpancar dari pesona alamnya yang dingin dan asri, tetapi juga dari hangatnya ikatan persaudaraan warga desa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *