Asal Usul Nama Gubugklakah

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

Gambar 1. Kaart der Residentie Pasoeroean, 1858 (Bagian Pegunungan Tengger & G. Bromo).
Sumber: http://nla.gov.au/nla.obj-230935982

Gubugklakah — Menyebut nama Desa Gubugklakah, yang terbayang di benak kita adalah udara pegunungan yang sejuk, hamparan perkebunan yang subur, serta jalur utama menuju keindahan Lautan Pasir Bromo. Namun, tahukah Anda bagaimana desa yang penuh pesona di lereng barat Pegunungan Tengger ini mendapatkan namanya dan tumbuh menjadi desa wisata yang tersohor?

Jejak sejarah Gubugklakah tersimpan rapi dalam arsip-arsip kuno, peta kolonial, hingga ingatan kolektif warga lokal. Mari menelusuri kisah di balik terbentuknya desa yang hangat dan bersahaja ini.

Secara etimologi dalam Bausastra Jawi karya Poerwadarminta (1939), nama Gubugklakah berasal dari dua kata Bahasa Jawa:

  1. Gubug: Pondokan kecil atau tempat berlindung yang sederhana.
  2. Klakah: Belahan atau bilah bambu yang disusun rapat untuk atap maupun dinding bangunan.

Meski tidak ada cerita tutur tunggal mengenai siapa sosok pertama yang menamai desa ini, lanskap alam Gubugklakah memberikan jawabannya. Sejak zaman kuno, wilayah ini dikelilingi oleh aliran sungai dengan vegetasi alas pring (hutan bambu). Para pendahulu menggunakan bambu-bambu lokal tersebut yang dibelah (klakah) untuk membangun tempat bernaung (gubug) di lereng pegunungan. Dari kesederhanaan dan keharmonisan dengan alam itulah, nama Gubugklakah lahir.

Dalam memori sejarah lokal, Desa Gubugklakah awalnya terbagi menjadi dua pedukuhan utama:

  1. Dukuh Kertoayu: dikenal sebagai Kampung Bawah
  2. Dukuh Kertosari: dikenal sebagai Kampung Atas

Seiring berjalannya waktu dan penataan administrasi desa, kedua nama dukuh tersebut secara formal dilebur menjadi wilayah Rukun Warga (RW). Namun hingga hari ini, masyarakat setempat masih sering menyapa wilayah mereka dengan sebutan “Kampung Bawah” dan “Kampung Atas”, sebuah penanda tata ruang kultural yang masih hidup dan lestari.

Posisi Gubugklakah sangat strategis sejak abad ke-19. Dalam berbagai arsip Belanda, nama desa ini sering dieja sebagai Goeboeg Klakah, Goeboek klakah, atau Goeboeklakah. Desa ini merupakan titik krusial dalam jaringan jalan tradisional dari Singosari dan Tumpang menuju Kaldera Bromo via Ngadas.

Karena medannya yang penting dan indah, pada masa Hindia Belanda dibangun fasilitas Pesanggrahan, yakni sebuah tempat peristirahatan resmi bagi para pejabat, peziarah, dan peneliti asing sebelum menembus lautan pasir Bromo.

Beberapa peristiwa bersejarah penting yang mencatat nama Gubugklakah antara lain:

  1. Tahun 1815: Rombongan dinas resmi yang dipimpin oleh Residen Basier bersama para Bupati (Regenten) melintasi Goeboegklakah menuju Ledok Ombo.
  2. September 1844: Dr. Franz Junghuhn, naturalis dan geolog kenamaan dunia, menjadikan Pesanggrahan Goeboegklakah sebagai basis ekspedisinya selama tujuh hari untuk meneliti kerucut erupsi, topografi, dan vegetasi khas pegunungan Tengger.
  3. Peta Kolonial 1858 & 1911: Nama Goeboegklakah sudah tertera jelas dalam Kaart der Residentie Pasoeroean (1858) sebagai jalur resmi pelancongan Bromo via Toempang – Goeboegklakah – Ngadas – Djemplang – Zandzee (Lautan Pasir).

Keindahan Gubugklakah bukan hanya terletak pada alamnya, melainkan juga pada kehangatan masyarakatnya. Seorang penulis Belanda bernama L. Burer yang menetap di Jawa antara tahun 1837–1847 menuliskan kesaksiannya dalam majalah Biang Lala (1852).

Burer mencatat bahwa warga Goeboegklakah dikenal bertubuh sehat dan kekar, hidup makmur (welgegoed), hemat, sangat ramah dalam menerima tamu (gastvrij), serta memiliki tata krama yang amat santun (zedig).

Tradisi menyambut tamu ini terbukti bukan sekadar omongan belaka, melainkan karakter luhur orang Tengger di Gubugklakah yang telah diwariskan turun-temurun hingga saat ini.

Mengenal asal-usul Gubugklakah membuktikan bahwa desa ini bukan sekadar jalur lintasan yang dilewati begitu saja. Gubugklakah adalah tempat persinggahan bersejarah yang menawarkan kombinasi sempurna berupa ketenangan gubug bambu di lereng gunung, jejak penjelajah dunia, kebudayaan Tengger yang luhur, serta keramahan warga yang tulus.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *