Menyibak Tabir Misteri Prasasti Pabañolan

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026


 Di balik keheningan lereng barat Pegunungan Tengger, tepatnya di Desa Gubugklakah, Kabupaten Malang, tersimpan sebuah warisan literatur kuno yang menjungkirbalikkan banyak asumsi tentang sejarah besar Nusantara. Artefak tersebut adalah Prasasti Pabañolan dengan Nomor Inventaris E.48 yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

 Sebagai satu-satunya dokumen epigrafis era Majapahit yang tidak berformat hukum maupun administratif formal, Prasasti Pabañolan hadir sebagai sebuah karya sastra. Prasasti ini tidak membahas penetapan daerah bebas pajak (sīma) maupun sengketa tanah (jayapatra), melainkan mengisahkan perjalanan Panji yang sarat akan nilai pengobatan, kasih sayang, dan kemanusiaan.

 Secara fisik, Prasasti Pabañolan dipahat pada satu lempeng tembaga tunggal yang memiliki struktur penulisan pada dua sisi, yaitu sebagai berikut:

  1. Sisi Depan: Memuat 6 baris tulisan menggunakan aksara Jawa Kuna.
  2. Sisi Belakang: Memuat 2 baris tulisan penutup (kolofon).

 Kajian akademis terhadap lempengan berharga ini memiliki sejarah yang panjang. Penelitian diawali pada masa kolonial oleh arkeolog N.J. Krom dan dilanjutkan dengan rintisan alih aksara oleh J.L.A. Brandes pada awal abad ke-20. Selanjutnya, prasasti ini berhasil ditranskripsi secara sistematis oleh epigraf legendaris Boechari pada tahun 1986 sehingga isi dan maknanya dapat dipahami dengan lebih baik.

 Berdasarkan bentuk aksara (paleografi) dan analisis antroponimi, para ahli menyimpulkan bahwa Prasasti Pabañolan merupakan dokumen tinulat, yaitu salinan resmi yang dipahat ulang pada media baru untuk menyelamatkan isi teks asli yang kemungkinan telah rusak di masa lalu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pada masa tersebut telah memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga dan melestarikan warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Gambar 1: Prasasti Pabañolan sisi depan
Sumber: https://anangpaser.wordpress.com

Untuk memahami isi dan pesan yang tersirat dalam Prasasti Pabañolan, mari kita simak transkripsi lengkap dari teks asli dengan Nomor Inventaris E.48. Transkripsi ini menjadi bagian penting dalam penelitian epigrafi karena melalui teks asli tersebut, para ahli dapat mengungkap cerita, tokoh, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

 Adapun transkripsi lengkap dari teks asli Prasasti Pabañolan (E.48) adalah sebagai berikut:

Transkripsi Prasasti Pabañolan:
1) han. yan urisa. añjalukaŋ khadehan. tan wruḥ yan tāhikhaṅ urisa. tan winehan. wkasan ahĕmpan jambe kaŋ khadehan. pacěh. dinulita
2) n. ataḍaḥ tāṅan. pacěh. wkasan keli mariŋ nuṣa sanda. kapaṅgiḥ rakryan galuḥ. madan liṣya babu bābu. busihěn ṅaran suŋ putra. ṅaraniŋ
3) khadehan sawuaŋ. kapaṅgiḥ ta saŋ wiku. mwaŋ saŋ usaddha. tan winehan de ni saŋ wiku. wkasan aharěp mara hariŋ wāno kliŋ. saŋ usa-
4) ddha. pacěh. aharěp anunuta kaŋ babu babu. pacěh. alumuḥ kaŋ usāddha. wkasan maṅa. tka ri kliŋ. iṅalap taṅ usaddha. denira ino. asiḥ sira. tan kina-
5) rěpan denira parāmeśwarī. lakuniŋ usaddha. mantuk mariŋ jāwa. tumutu sira hino. mahiṣya juru khuruŋ. tka ri jāwa. dumunuŋ riŋ malandaŋ. kawruhan de-
6) niŋ putri yan putra. wkasan hapaṅgiḥ muwah. iti siḥhěn. // o // iti pabañolan. perisamapto. tělas sinurāt ri saŋ hyan batur paja-

Gambar 2: Prasasti Pabañolan sisi depan
Sumber: https://anangpaser.wordpress.com

 Adapun lanjutan transkripsi teks asli Prasasti Pabañolan (E.48) adalah sebagai berikut:

7) ran riŋ wilatikta. denira mpu mahajāyā de saŋ aparab sāri sari. parintośakna hala běcik niŋ satra. kuraŋ lěwihnya waggö paruṅgunya. samaṅana
8) ajö de daŋ amaca. dereŋ wanwa ri canda. wara. pahiŋ. kṛṣṇa pakṣa daśami. ka. 4 rah 3.

Terjemahan:

  1. …, bahwa Urisa meminta para kerabat. (Namun) tidak tahu jika Urisa, tidak diberi. Sehingga para kerabat memakan pinang dengan tertawa. Dicoleki
  2. dengan menadahkan tangan dan bahagia. Akhirnya hanyut sampai Nusa Sanda, bertemu Rakryan Galuh, yang berpura-pura menjadi pembantu. Diambil putra dengan nama Busihen, nama
  3. saudaranya Sawuang. Bertemulah sang Usaddha (Urisa) dengan pendeta, (namun) tidak diberi (obat) oleh sang pendeta. Sehingga akan mendatangi ke hutan Kling. Sang Usa-
  4. ddha gembira, ingin ikutlah para pembantu, bergembira. Sang Usaddha tidak memperbolehkan. Akhirnyapun sampai di Kling. Dijadikan saudara sang Usaddha oleh Ino1 (Panji), ia sangat dicintai. Namun tidak di-
  5. sukai permaisuri. Perjalanan Usaddha pulang ke Jawa, diikuti Ino, namanya Mahisa Juru Kurung2. Sampai di Jawa tinggal di Maladang. Diketahui o-
  6. leh putri bahwa ia putranya, akhirnya bertemu kembali. Demikian kasihanilah. Demikian Pabanyolan selesai dengan sempurna. Selesai ditulis oleh Sang Hyang Batur Paja-
  7. ran di Wilatikta (Majapahit) oleh Mpu Mahajaya bergelar Sari-sari. Mohon dimaafkan atas buruk dan baiknya tulisan ini. Kurang lebihnya serta kekakuannya saat didengarkan, demikianlah adanya. Semoga
  8. membawa kebaikan bagi pembaca. Belum sempurna aturan irama puisi (chanda). Ditulis pada Pahing, paruh gelap bulan (krisnapaksa) hari kesepuluh, bulan keempat (Sasih Kapat), rah 3.

Keterangan:

  1. 1Ino adalah sebutan lain untuk Panji. Dalam berbagai kebudayaan di Nusantara, Panji disebut juga Ino/Inu/Inau, seperti: Inu Kertåpati adalah nama lain dari Panji Asmårå Bangun.
  2. 2Mahisa Juru Kurung: Mahisa ‘lembu’ sebutan untuk tokoh era Singhasari dan Kediri yang merupakan latar cerita Panji, Juru kurung merujuk pada kekuasaan yang besar (Sasongko & Susanti, 2021).

 Cerita di atas adalah kisah Urisa (Raden Gunungsari) yang berperan sebagai Usaddha (pencari obat/penyembuh) yang merupakan ipar dari Raden Inu Kertåpati (Panji Asmårå Bangun) yang mencari obat bersama para kadeyan (kerabat) untuk kesembuhan ibu mertuanya. Raden Gunungsari ketika sampai di Nusa Sanda tidak menemukan obatnya, perjalanan berlanjut dan sampai di wilayah Kling, disana ia bertemu dengan Ino (Panji) yang menyamar sebagai Mahisa Juru Kurung. Setelah mendapatkan obatnya, Raden Gunungsari bersama Ino kembali ke Jawa. Bertemulah dengan sang putri. Sang putri sembuh karena melihat Ino yang ternyata putranya yang sedang menyamar. Sakit yang dideitanyanadalah sakit kangen, dan kehadiran Panji adalah obat baginya jadi sembuh.


 Prasasti Pabañolan menyajikan kontradiksi penanggalan. Formula penutup teks sangat singkat, khas gaya kepenulisan era Raja Hayam Wuruk (akhir abad ke-14 M). Hal itu sesuai dengan prediksi bahwa prasasti dibuat tahun 1303 Śaka / 1381 Masehi. Sementara, sejarawan N.J. Krom dan para epigrafer generasi pertama menyimpulkan bahwa prasasti ini berangka tahun 1463 Śaka, yang bertepatan dengan tahun 1541 Masehi yang didasarkan dari angka tahun fisik yang terpahat secara nyata pada permukaan lempengan tembaga.


 Melalui konsep tinulat, misteri ini terpecahkan secara logis, yakni kisahnya benar-benar ditulis pada tahun 1381 Masehi, sedangkan lempengan fisik yang dimiliki hari ini dipahat ulang oleh seseorang pada tahun 1541 Masehi. Tapi sayang, teks prasasti ini tidak lengkap di awal cerita. Besar kemungkinan terdapat narasi cerita lain di awal prasasti, karena kalimat pertama dalam teks tertulis “han”, yang merupakan bukan kalimat utuh.


 Keunikan lainnya terdapat pada penulisan prasasti yang disebutkan berada di pertapaan suci Sang Hyang Batur Pajaran di “Wilatikta”. Penulisan ejaan “Wilatikta” berbeda secara radikal dengan standar ejaan dokumen resmi istana yang seharusnya “Wilwatikta”. Hal ini mengisyaratkan bahwa salinan prasasti ini tidak diproduksi di bawah pengawasan ketat pujangga keraton (dharmadhyāksa), melainkan disalin oleh rakawi gunung atau pertapaan pegunungan pedesaan (dharma lpas) yang menggunakan dialek kebahasaannya lebih luwes.


 Prasasti Pabañolan bukan sekadar lempeng tembaga mati di museum, akan tetapi merupakan pembawa pesan perdamaian dalam peradaban, karya sastra berkisah Panji di masa lalu, dan akar spiritual yang menjaga kebudayaan lereng Tengger tetap lestari hingga hari ini.


Referensi

  1. Proyek Pengembangan Museum Nasional. (1986). Prasasti Koleksi Museum Nasional Jilid I. Proyek Pengembangan Museum Nasional.
  2. Sasongko, C. T., & Susanti, N. (2021). Pu Sapi Dan Lembu Agra: Kajian Antroponimi Berdasarkan Isi Prasasti Jawa Kuno (Abad Ke-9–16 M). Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 11(2), 1.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *