Menyingkap Prasasti Pabanyolan: Rahasia Sastra Humor Majapahit di Desa Gubugklakah

Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026

Gambar 1: Prasasti Pabañolan sisi depan
Sumber: https://anangpaser.wordpress.com

MENYINGKAP PRASASTI PABANYOLAN

Gubugklakah — Selama ini, Desa Gubugklakah di Kecamatan Poncokusumo, Malang, mungkin lebih dikenal sebagai gerbang utama menuju keindahan spektakuler Gunung Bromo atau tempat untuk menikmati hawa sejuk. Namun, tahukah Anda bahwa di balik wisatanya yang memesona, desa ini menyimpan salah satu rahasia sejarah paling unik dari zaman Jawa Kuno?

Rahasia itu bernama Prasasti Pabañolan, juga disebut Prasasti Gubuk atau Prasasti Gubugklakah. Sebuah peninggalan lempeng tembaga (tamraprasasti) yang tidak hanya langka, tetapi juga mengubah pandangan para sejarawan mengenai masa akhir Kerajaan Majapahit.

Pada umumnya, prasasti-prasasti kuno di Nusantara berisi ketetapan hukum, seperti penetapan batas wilayah bebas pajak (sima), peresmian bangunan suci, atau peringatan peristiwa penting Namun, Prasasti Pabañolan tampil sangat beda.

Prasasti berbahan lempeng tembaga berukuran 34,7 x 6,5 cm ini memuat naskah kesusastraan Kisah Panji yang dikemas secara jenaka (humor). Kata Pabañolan sendiri berakar dari kata banyol yang berarti lelucon atau dagelan.

Di dalam teksnya, terdapat pengulangan diksi kata pacěh yang berarti ‘tertawa terbahak-bahak’. Ceritanya mengisahkan adegan lucu kesalahpahaman para kerabat Panji (kadeyan) yang mengira kotoran rusa sebagai sesuatu yang berharga, pengembaraan menyamar sebagai pengasuh (babu), hingga pertemuan cinta romantis di Tanah Jawa.

“Prasasti Pabañolan menjadi bukti otentik bahwa sejak abad pertengahan, masyarakat di lereng Bromo-Tengger telah memiliki apresiasi seni pertunjukan, sastra humor, dan seni peran yang sangat tinggi.”

Di bagian akhir (kolofon) teks Prasasti Pabañolan, tertulis sebuah kalimat penting:

“Telas sinurat ri Sang Hyang Batur Pajaran ring Wilatikta”

Yang artinya: selesai ditulis di Pertapaan Suci, di bawah naungan Wilatikta/Majapahit.

Kalimat ini menegaskan bahwa pada masa lalu, kawasan Gubugklakah merupakan kawasan dharma ipas atau katyagan, yaitu mandala keagamaan di lereng barat Pegunungan Tengger.

Salah satu sumbangsih Prasasti Pabañolan bagi sejarah Indonesia adalah keterangan dalam penanggalannya. Banyak buku sejarah lama menyebutkan Majapahit runtuh pada tahun 1478 Masehi berdasarkan sengkalan Sirna Ilang Kertaning Bumi (1400 Saka).

Namun, analisis epigrafi pada Prasasti Pabañolan menunjukkan angka tahun 1463 Saka atau 1541 Masehi.

Melalui tradisi mutrani (menyalin ulang karya sastra leluhur), prasasti ini membuktikan bahwa komunitas keagamaan, literasi aksara Jawa Kuno, dan otoritas tradisi Majapahit di lereng Tengger masih tetap eksis dan lestari hingga pertengahan abad ke-16, jauh setelah mundurnya eksistensi Majapahit di dataran rendah.

Menyambangi Desa Gubugklakah bukan sekadar melakukan perjalanan wisata alam biasa, melainkan sebuah ziarah kebudayaan. Di sini, Anda dapat meresapi hawa dingin pegunungan, menikmati keramahan warga, menyaksikan tarian Topeng Panji, dan berdiri di tanah bersejarah tempat para pujangga Majapahit pernah menggoreskan karyanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *