Tradisi Kerik-kerik Desa Gubugklakah: Upacara Penyucian Bayi dan Akulturasi Budaya
Penulis : Muhamad Rafi Nur Fauzy
Tim : KKN PPM UGM Bromo Bestari 2026
KERIK KERIK MENJADI TRADISI YANG MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN
Gubugklakah — Kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah di lereng Pegunungan Tengger senantiasa diwarnai oleh ungkapan syukur atas setiap fase kehidupan manusia. Ketika sebuah keluarga dikaruniai seorang bayi, warga desa menyambutnya bukan sekadar dengan sukacita keluarga inti, melainkan melalui sebuah upacara adat bernama Kerik-kerik.
Kerik-kerik adalah tradisi penyucian bayi baru lahir yang sarat nilai spiritual, kehangatan gotong royong, serta sistem sosial kemasyarakatan yang masih terpelihara dengan sangat indah hingga hari ini.
Tradisi Kerik-kerik diselenggarakan pada hari ke-30 atau ke-40 setelah bayi lahir ke dunia. Bagi warga Gubugklakah, hadirnya seorang anak adalah anugerah agung dari Sang Pencipta yang patut dirayakan melalui wilujengan (syukuran keselamatan).
Prosesi upacara adat Kerik Kerik meliputi, pemotongan rambut bayi dipotong secara halus (dikerik) sebagai simbol pembersihan dan penyucian bayi dari hal-hal kotor pascapersalinan, agar sang bayi dapat tumbuh menjadi pribadi yang bersih lahir dan batin. Kemudian dilanjutkan doa keselamatan yang dipimpin pemangku adat bersama keluarga. Doa dipanjatkan agar anak tersebut senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan dalam menjalani kehidupannya kelak.
Hal paling berkesan dalam tradisi Kerik-kerik adalah kuatnya interaksi sosial dan tradisi rewang (saling bantu) antarwarga desa, seperti Nasi Tempeh (Tampah), yakni pihak keluarga bayi menyiapkan hantaran berupa nasi lengkap beserta lauk-pauknya yang disusun di atas tampah bambu (nasi tempeh). Hantaran ini dibagikan kepada keluarga besar dengan jumlah yang banyak.
Selain itu, sebagai wujud rasa sukacita dan dukungan sosial, para tetangga akan datang berkunjung dengan membawa gula pasir. Pemberian ini dicatat secara rapi oleh keluarga bayi. Ketika tetangga yang memberi gula pasir tersebut kelak memiliki hajat, keluarga bayi akan mengembalikannya dengan jumlah yang setara atau bahkan lebih. Sistem rewang gula pasir ini menjadi perekat silaturahmi yang menjaga kehangatan hubungan antartetangga di Desa Gubugklakah agar tetap erat dan harmonis.
Seiring berkembangnya zaman dan mayoritas warga memeluk agama Islam, tradisi Kerik-kerik berakulturasi secara harmonis dengan tradisi Aqiqah. Dalam jamuan dan syukuran Kerik-kerik, masyarakat juga melakukan pemotongan kambing sesuai dengan syariat (satu ekor untuk bayi perempuan dan dua ekor untuk bayi laki-laki). Perpaduan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Tengger dan ajaran agama Islam berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
Dati situ kita bisa melihat bahwa Desa Wisata Gubugklakah tidak hanya menawarkan pesona alam pegunungan yang indah dan kebun yang asri, tetapi juga menyajikan keindahan tata nilai sosial yang humanis. Di sini, setiap jiwa baru disambut dengan doa, rasa syukur, dan uluran tangan dari seluruh warga desa.